Sebagai seorang penjelajah sejarah dan penggemar berat kisah-kisah masa lalu, tidak ada yang lebih menggugah semangat saya selain membongkar misteri nama-nama kuno yang terukir dalam catatan para pedagang dan penjelajah. Bayangkan, ribuan tahun lalu, jauh sebelum peta digital atau GPS, dunia adalah hamparan luas yang dihubungkan oleh angin, ombak, dan keberanian para pelaut. Di tengah samudra waktu itu, para pedagang Arab memainkan peran krusial, menghubungkan timur dan barat, dan dalam perjalanan mereka, mereka mencatat nama-nama tempat yang kini seringkali menjadi teka-teki.
Hari ini, mari kita selami salah satu misteri paling menarik dari Asia Tenggara maritim: mengapa para pedagang Arab menyebut sebuah kerajaan perkasa dengan nama Zabag, Zabay, atau bahkan Sribusa? Apa gerangan kerajaan yang begitu memikat perhatian mereka hingga namanya tercatat dalam berbagai manuskrip kuno? Siap-siap, karena perjalanan kita kali ini akan mengungkap sebuah imperium bahari yang mendominasi perdagangan dan politik di kawasan ini selama berabad-abad.
Sebelum kita sampai pada jawabannya, mari kita pahami mengapa catatan pedagang Arab begitu berharga. Mereka adalah saksi mata, penjelajah ulung, dan pencatat ulung. Dari Baghdad hingga pesisir Afrika Timur, dari India hingga kepulauan rempah-rempah, jejak mereka tersebar. Tidak hanya mencari keuntungan, mereka juga membawa serta rasa ingin tahu yang besar, mencatat geografi, budaya, dan tentu saja, nama-nama kerajaan yang mereka kunjungi atau dengar.
Catatan-catatan ini, seringkali berupa risalah geografis atau kisah perjalanan (rihlah), menjadi jendela utama kita untuk melihat dunia dari sudut pandang abad pertengahan. Para sejarawan modern sangat bergantung pada teks-teks seperti Kitāb al-Fihrist oleh Ibn al-Nadīm, Murūj al-Dhahab wa Ma‘ādin al-Jawhar oleh Al-Mas'udi, atau catatan Ibn Khordadbeh. Namun, ada satu tantangan besar: transkripsi nama asing ke dalam abjad Arab, yang seringkali menimbulkan variasi ejaan dan kebingungan. Inilah sebabnya mengapa satu kerajaan bisa memiliki beberapa nama yang berbeda dalam catatan-catatannya. Saya pribadi melihat tantangan ini sebagai bagian dari pesona sejarah itu sendiri; ibaratnya kita adalah detektif yang harus menyusun kepingan-kepingan puzzle yang hilang.
Mari kita langsung ke inti persoalan. Dari berbagai studi filologi dan perbandingan historis yang telah dilakukan oleh para ahli terkemuka, nama Zabag dan Zabay hampir secara universal disepakati merujuk pada satu kerajaan besar: Kerajaan Srivijaya.
Srivijaya, sebuah thalasokrasi maritim yang berpusat di Pulau Sumatra, khususnya di sekitar Palembang, adalah kekuatan dominan di Asia Tenggara antara abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi. Kekuatan ini tidak hanya menguasai jalur perdagangan vital melalui Selat Malaka dan Selat Sunda, tetapi juga menjadi pusat penyebaran agama Buddha yang berpengaruh.
Mengapa para pedagang Arab menggunakan nama Zabag atau Zabay? Para ahli berpendapat bahwa ini adalah transliterasi atau pengucapan lokal dari "Srivijaya" atau variannya. Dalam bahasa Arab, huruf 'v' atau 'j' yang kita kenal mungkin sulit untuk diucapkan atau ditulis secara persis, sehingga terdengarlah seperti 'b' atau 'z'. Selain itu, ada kemungkinan pula bahwa nama ini merupakan adaptasi dari nama lokal yang digunakan oleh penduduk pesisir atau suku-suku tertentu di bawah pengaruh Srivijaya.
Beberapa bukti kunci yang menguatkan identifikasi ini meliputi:
Menurut pandangan saya, keselarasan antara deskripsi Arab dengan temuan arkeologis dan catatan dari sumber lain, seperti catatan Tiongkok yang menyebut Srivijaya sebagai "Sanfoqi" atau "Shih-li-fo-shih", menunjukkan konsensus yang kuat. Bayangkan saja, dari perspektif pedagang yang sering melintas, melihat kapal-kapal Srivijaya berlayar megah dan pelabuhannya yang ramai, pasti meninggalkan kesan mendalam yang memicu mereka untuk mencatat nama kerajaan ini dalam buku harian mereka.
Nah, bagaimana dengan nama Sribusa? Ini sedikit lebih rumit, namun mayoritas sejarawan cenderung sepakat bahwa Sribusa adalah varian lain dari nama Srivijaya atau merujuk pada sebuah entitas yang sangat terkait erat dengannya.
Ada beberapa teori mengenai Sribusa:
Saya pribadi cenderung pada pandangan bahwa Sribusa adalah varian fonetik dari Srivijaya. Mengingat betapa tidak konsistennya transkripsi nama-nama asing dalam catatan kuno—bukan hanya dari Arab, tetapi juga dari Tiongkok atau India—adalah wajar jika sebuah nama sebesar Srivijaya memiliki beberapa bentuk yang berbeda. Hal ini bahkan sering terjadi pada nama-nama modern, apalagi nama-nama yang sudah berusia ribuan tahun. Fleksibilitas linguistik dan akomodasi terhadap telinga asing seringkali membentuk nama-nama baru yang unik.
Setelah kita sepakati bahwa Zabag, Zabay, dan Sribusa kemungkinan besar merujuk pada Srivijaya, mari kita apresiasi sejenak betapa megahnya kerajaan ini. Srivijaya bukanlah sekadar "kerajaan biasa"; ia adalah sebuah imperium bahari yang mengandalkan kontrol atas perdagangan dan laut.
Beberapa aspek penting dari kekuasaan Srivijaya meliputi:
Saya sering merenungkan betapa dinamisnya Srivijaya. Ia adalah contoh sempurna bagaimana sebuah kerajaan dapat membangun kekuasaannya bukan dari penaklukan tanah yang luas, melainkan dari penguasaan jalur laut dan perdagangan. Ini adalah model yang relevan bahkan di era modern, di mana konektivitas maritim masih sangat krusial.
Mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimana para sejarawan bisa menyimpulkan semua ini dari beberapa nama dan deskripsi kuno? Jawabannya terletak pada metodologi yang cermat dan interdisipliner. Ini bukan pekerjaan satu orang, melainkan kolaborasi lintas disiplin ilmu.
Menurut saya, kerja para sejarawan ini adalah bentuk seni tersendiri. Mereka tidak hanya membaca teks, tetapi juga membaca "di antara baris", mencari pola, dan menyatukan kepingan informasi yang tersebar. Tantangannya adalah minimnya sumber primer dan seringkali ambiguitas dalam penafsiran, tetapi di situlah letak keindahan proses penemuan.
Meskipun Srivijaya runtuh pada abad ke-13, terutama akibat tekanan dari kerajaan-kerajaan Jawa seperti Singasari dan kemudian Majapahit, serta invasi Chola dari India, warisannya tidak pernah benar-benar lenyap.
Mungkin ada yang berpikir, "Mengapa harus pusing-pusing dengan nama kuno yang berbeda-beda ini?" Namun, bagi saya, ini jauh lebih dari sekadar latihan filologi. Memahami dan mengkonfirmasi nama-nama ini adalah kunci untuk:
Pada akhirnya, kisah tentang Zabag, Zabay, dan Sribusa adalah narasi tentang sebuah kerajaan yang pernah berjaya, tentang upaya manusia untuk mencatat dan memahami dunia mereka, dan tentang kerja keras para sejarawan untuk menyatukan potongan-potongan sejarah yang terpisah oleh waktu. Ini adalah pengingat bahwa bahkan dalam variasi ejaan terkecil sekalipun, tersembunyi kekayaan pengetahuan yang menunggu untuk diungkap.
Q1: Apa kesimpulan utama mengenai Zabag, Zabay, dan Sribusa? A1: Kesimpulan utama adalah bahwa Zabag dan Zabay hampir secara universal disepakati merujuk pada Kerajaan Srivijaya, sebuah thalasokrasi maritim yang berpusat di Sumatra. Sementara itu, Sribusa juga dianggap sebagai varian fonetik atau nama terkait yang merujuk pada entitas yang sama, yaitu Srivijaya.
Q2: Mengapa para pedagang Arab menggunakan nama-nama yang berbeda untuk kerajaan yang sama? A2: Penggunaan nama-nama yang berbeda terjadi karena tantangan transliterasi dari bahasa lokal atau nama aslinya ke dalam abjad Arab, variasi pengucapan di kalangan pedagang Arab dari berbagai daerah, atau bahkan kesalahan penyalinan dalam manuskrip seiring waktu.
Q3: Apa bukti utama yang mendukung identifikasi Zabag/Zabay dengan Srivijaya? A3: Bukti utamanya meliputi: * Lokasi geografis yang konsisten dengan posisi strategis Srivijaya. * Deskripsi kekayaan dan kekuasaan maritim yang cocok dengan karakteristik Srivijaya. * Jenis komoditas perdagangan yang disebutkan juga sesuai dengan barang-barang ekspor utama Srivijaya. * Pengaruh regional yang luas seperti yang dimiliki Srivijaya. * Kesesuaian dengan sumber-sumber lain seperti catatan Tiongkok yang menyebut "Sanfoqi" atau "Shih-li-fo-shih".
Q4: Apa peran penting Srivijaya dalam sejarah Asia Tenggara? A4: Srivijaya memainkan peran penting sebagai penguasa jalur perdagangan maritim vital di Selat Malaka dan Selat Sunda, pusat penyebaran agama Buddha Mahayana yang berpengaruh, dan kekuatan ekonomi yang dominan melalui kendali atas perdagangan rempah-rempah dan komoditas berharga lainnya.
Q5: Mengapa penting bagi kita di masa kini untuk mempelajari nama-nama kuno seperti Zabag dan Sribusa? A5: Penting karena ini membantu kita menghubungkan masa lalu dengan masa kini, menghargai keragaman sumber sejarah, membangun kembali narasi sejarah yang lebih utuh yang tidak hanya terfokus pada Barat, serta menginspirasi penelitian dan penemuan baru tentang peradaban masa lalu yang gemilang di Asia Tenggara.
Tautan artikel ini:https://www.cxynani.com/keuangan-pribadi/6666.html