Akuntansi Perusahaan Dagang: Masih Bingung Siklus & Jurnalnya? Ini Panduan Lengkapnya!

admin2025-08-06 22:51:4368Keuangan Pribadi

Akuntansi Perusahaan Dagang: Masih Bingung Siklus & Jurnalnya? Ini Panduan Lengkapnya!

Hai para pejuang laporan keuangan! Seringkali, akuntansi perusahaan dagang terasa seperti labirin yang rumit, penuh dengan istilah-istilah seperti HPP, persediaan, dan potongan pembelian yang membuat kepala pusing. Jangan khawatir, Anda tidak sendiri. Banyak yang merasa demikian, dan itulah mengapa artikel ini hadir sebagai kompas digital Anda, menuntun Anda melewati setiap tikungan dan belokan dalam dunia akuntansi perusahaan dagang.

Saya, sebagai seorang profesional yang sudah lama berkecimpung di dunia angka, memahami betul tantangan ini. Akuntansi perusahaan dagang memang memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari akuntansi perusahaan jasa, dan memahami inti perbedaannya adalah langkah pertama menuju penguasaan. Mari kita bongkar satu per satu, dengan bahasa yang mudah dipahami, tanpa perlu lagi merasa minder di depan tumpukan jurnal.

Akuntansi Perusahaan Dagang: Masih Bingung Siklus & Jurnalnya? Ini Panduan Lengkapnya!

Memahami Jantung Bisnis: Perusahaan Dagang

Sebelum kita menyelam lebih dalam ke siklus dan jurnal, penting untuk benar-benar memahami apa itu perusahaan dagang. Sederhananya, perusahaan dagang adalah entitas bisnis yang kegiatan utamanya adalah membeli barang dari pemasok dan menjualnya kembali kepada pelanggan tanpa mengubah bentuk barang tersebut secara signifikan. Ini bisa berupa toko kelontong, distributor elektronik, importir pakaian, atau bahkan toko online yang menjual produk fisik.

Bagi saya, perusahaan dagang adalah denyut nadi perekonomian riil. Mereka adalah jembatan antara produsen dan konsumen, memastikan barang bergerak lancar di pasar. Memahami operasional mereka adalah kunci untuk memahami bagaimana uang berputar di masyarakat.


Bukan Sekadar Jual Beli: Perbedaan Krusial dengan Perusahaan Jasa

Ini adalah titik paling vital yang seringkali membuat banyak orang kebingungan. Perusahaan dagang memiliki karakteristik yang sangat spesifik yang membedakannya dari perusahaan jasa, terutama dalam hal pencatatan akuntansinya.

  • Fokus Operasi:

    • Perusahaan Dagang: Berfokus pada perdagangan barang fisik. Mereka membeli barang jadi dan menjualnya kembali.
    • Perusahaan Jasa: Berfokus pada penyediaan layanan atau keahlian. Mereka menjual sesuatu yang tidak berwujud.
  • Persediaan Barang Dagang:

    • Perusahaan Dagang: Memiliki persediaan barang dagang yang siap untuk dijual kembali. Pencatatan dan pengelolaan persediaan ini menjadi aspek yang sangat penting.
    • Perusahaan Jasa: Tidak memiliki persediaan barang dagang yang signifikan untuk dijual kembali dalam operasional utamanya.
  • Harga Pokok Penjualan (HPP):

    • Perusahaan Dagang: Mempunyai akun HPP. Ini adalah biaya langsung dari barang yang dijual, komponen krusial dalam laporan laba rugi.
    • Perusahaan Jasa: Tidak memiliki HPP. Biaya operasional mereka cenderung fokus pada beban gaji, sewa, utilitas, dan biaya overhead lainnya.
  • Siklus Akuntansi:

    • Perusahaan Dagang: Siklusnya lebih kompleks karena melibatkan pencatatan persediaan, perhitungan HPP, retur barang, dan lain-lain.
    • Perusahaan Jasa: Siklusnya lebih sederhana karena fokus pada pengakuan pendapatan jasa dan beban-beban terkait.

Memahami perbedaan ini adalah fondasi Anda untuk tidak lagi salah kaprah dalam memproses transaksi.


Menguak Misteri Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang

Siklus akuntansi adalah serangkaian langkah yang teratur dan berulang yang dilalui oleh data akuntansi selama periode akuntansi tertentu. Anggap saja siklus ini adalah roda gigi utama yang menggerakkan seluruh mesin akuntansi. Untuk perusahaan dagang, siklusnya mencakup:

  • Analisis Transaksi: Setiap transaksi dianalisis untuk menentukan akun yang terpengaruh dan efeknya (debit atau kredit).
  • Pencatatan dalam Jurnal: Transaksi dicatat secara kronologis dalam jurnal (baik jurnal umum maupun jurnal khusus).
  • Pemindahan ke Buku Besar (Posting): Data dari jurnal dipindahkan ke akun-akun yang relevan di buku besar.
  • Penyusunan Neraca Saldo: Saldo akhir dari setiap akun di buku besar dikumpulkan untuk membuat neraca saldo.
  • Jurnal Penyesuaian: Entri dibuat untuk mengakui pendapatan yang belum dicatat dan beban yang belum dibayar, serta untuk menyesuaikan nilai akun persediaan.
  • Penyusunan Neraca Lajur (Opsional): Sebuah lembar kerja untuk memudahkan penyusunan laporan keuangan.
  • Penyusunan Laporan Keuangan: Laporan laba rugi, laporan perubahan modal, neraca, dan laporan arus kas disusun.
  • Jurnal Penutup: Menutup akun-akun nominal (pendapatan dan beban) untuk mempersiapkan periode akuntansi berikutnya.
  • Neraca Saldo Setelah Penutupan: Memastikan semua akun nominal sudah ditutup dan akun riil memiliki saldo yang benar.
  • Jurnal Pembalik (Opsional): Membalik beberapa jurnal penyesuaian untuk mempermudah pencatatan di periode berikutnya.

Jurnalistik Akuntansi: Membedah Transaksi Kunci

Inilah bagian yang paling ditunggu-tunggu, bagian inti yang membedakan akuntansi dagang. Pemahaman yang kuat tentang bagaimana setiap transaksi dicatat akan memudahkan langkah Anda ke tahap selanjutnya.


Pembelian Barang Dagang

Ketika perusahaan membeli barang untuk dijual kembali, ada beberapa skenario pencatatan yang perlu Anda ketahui:

  • Pembelian Tunai:

    • Debit: Persediaan Barang Dagang (jika menggunakan metode perpetual) atau Pembelian (jika menggunakan metode periodik).
    • Kredit: Kas.
    • Contoh: Membeli barang dagang tunai Rp 10.000.000.
      • Debit: Persediaan Barang Dagang Rp 10.000.000
      • Kredit: Kas Rp 10.000.000
  • Pembelian Kredit:

    • Debit: Persediaan Barang Dagang (perpetual) atau Pembelian (periodik).
    • Kredit: Utang Usaha.
    • Contoh: Membeli barang dagang kredit Rp 15.000.000.
      • Debit: Persediaan Barang Dagang Rp 15.000.000
      • Kredit: Utang Usaha Rp 15.000.000
  • Potongan Pembelian: Jika ada potongan yang diberikan oleh pemasok karena pembayaran dipercepat.

    • Debit: Utang Usaha (sejumlah yang dibayar sebelum potongan).
    • Kredit: Kas (sejumlah yang dibayar setelah potongan), Potongan Pembelian (sejumlah potongan).
    • Contoh: Membayar utang Rp 15.000.000 dengan potongan 2% (Rp 300.000).
      • Debit: Utang Usaha Rp 15.000.000
      • Kredit: Kas Rp 14.700.000
      • Kredit: Potongan Pembelian Rp 300.000
    • Catatan: Dalam metode perpetual, potongan pembelian langsung mengurangi nilai persediaan.

Retur Pembelian

Ketika barang yang dibeli dikembalikan kepada pemasok karena rusak atau tidak sesuai pesanan.

  • Debit: Kas (jika tunai) atau Utang Usaha (jika kredit).
  • Kredit: Persediaan Barang Dagang (perpetual) atau Retur Pembelian (periodik).
  • Contoh: Mengembalikan barang senilai Rp 1.000.000 yang dibeli secara kredit.
    • Debit: Utang Usaha Rp 1.000.000
    • Kredit: Persediaan Barang Dagang Rp 1.000.000

Penjualan Barang Dagang

Ini adalah sisi pendapatan utama perusahaan dagang.

  • Penjualan Tunai:

    • Debit: Kas.
    • Kredit: Penjualan.
    • Dan jika menggunakan metode perpetual, Anda juga harus mencatat HPPnya:
      • Debit: Harga Pokok Penjualan (HPP).
      • Kredit: Persediaan Barang Dagang.
    • Contoh: Menjual barang dagang tunai Rp 8.000.000 (HPP Rp 5.000.000).
      • Debit: Kas Rp 8.000.000
      • Kredit: Penjualan Rp 8.000.000
      • Debit: HPP Rp 5.000.000
      • Kredit: Persediaan Barang Dagang Rp 5.000.000
  • Penjualan Kredit:

    • Debit: Piutang Usaha.
    • Kredit: Penjualan.
    • Dan jika menggunakan metode perpetual, juga catat HPPnya:
      • Debit: Harga Pokok Penjualan (HPP).
      • Kredit: Persediaan Barang Dagang.
    • Contoh: Menjual barang dagang kredit Rp 12.000.000 (HPP Rp 7.000.000).
      • Debit: Piutang Usaha Rp 12.000.000
      • Kredit: Penjualan Rp 12.000.000
      • Debit: HPP Rp 7.000.000
      • Kredit: Persediaan Barang Dagang Rp 7.000.000
  • Potongan Penjualan: Potongan yang diberikan kepada pelanggan karena pembayaran dipercepat.

    • Debit: Kas (sejumlah yang diterima setelah potongan), Potongan Penjualan (sejumlah potongan).
    • Kredit: Piutang Usaha (sejumlah yang diterima sebelum potongan).
    • Contoh: Menerima pembayaran piutang Rp 12.000.000 dengan potongan 1% (Rp 120.000).
      • Debit: Kas Rp 11.880.000
      • Debit: Potongan Penjualan Rp 120.000
      • Kredit: Piutang Usaha Rp 12.000.000

Retur Penjualan

Ketika pelanggan mengembalikan barang yang dibeli kepada perusahaan.

  • Debit: Retur Penjualan.
  • Kredit: Kas (jika tunai) atau Piutang Usaha (jika kredit).
  • Dan jika menggunakan metode perpetual, Anda juga harus mengembalikan persediaannya:
    • Debit: Persediaan Barang Dagang.
    • Kredit: Harga Pokok Penjualan (HPP).
    • Contoh: Pelanggan mengembalikan barang senilai Rp 500.000 (HPP saat penjualan Rp 300.000).
      • Debit: Retur Penjualan Rp 500.000
      • Kredit: Piutang Usaha Rp 500.000
      • Debit: Persediaan Barang Dagang Rp 300.000
      • Kredit: HPP Rp 300.000 Bagi saya, memahami esensi transaksi ini adalah kunci. Bukan hanya menghafal debit kredit, tetapi mengerti mengapa akun itu bertambah atau berkurang.

Ongkos Angkut (Freight Costs)

Biaya pengiriman barang juga penting dicatat, terutama terkait dengan syarat pengiriman:

  • FOB Shipping Point (Franko Gudang Penjual): Hak kepemilikan barang berpindah di gudang penjual. Pembeli menanggung ongkos kirim. Ongkos kirim ini menambah harga perolehan persediaan.
    • Jurnal Pembeli:
      • Debit: Persediaan Barang Dagang.
      • Kredit: Kas.
  • FOB Destination (Franko Gudang Pembeli): Hak kepemilikan barang berpindah di gudang pembeli. Penjual menanggung ongkos kirim. Ongkos kirim ini dicatat sebagai beban pengiriman (beban penjualan) bagi penjual.
    • Jurnal Penjual:
      • Debit: Beban Angkut Penjualan.
      • Kredit: Kas.

Manajemen Persediaan: Jantung HPP Anda

Persediaan adalah aset paling dinamis di perusahaan dagang. Cara Anda mencatat dan menilai persediaan akan sangat mempengaruhi HPP dan, pada akhirnya, laba bersih Anda.


Sistem Pencatatan Persediaan

Ada dua metode utama dalam mencatat persediaan:

  • Sistem Perpetual (Buku Kontinu):

    • Pencatatan dilakukan secara terus-menerus setiap kali ada transaksi pembelian, penjualan, atau retur.
    • Akun Persediaan Barang Dagang selalu menunjukkan saldo riil yang ada di gudang.
    • HPP langsung tercatat setiap terjadi penjualan.
    • Kelebihan: Memberikan informasi yang akurat tentang persediaan dan HPP kapan saja.
    • Kekurangan: Memerlukan pencatatan yang lebih detail dan sistematis, sering digunakan oleh perusahaan yang menjual barang mahal atau volume transaksi tidak terlalu tinggi.
  • Sistem Periodik (Fisik):

    • Pencatatan hanya dilakukan di akhir periode akuntansi melalui perhitungan fisik (stock opname).
    • Akun Pembelian digunakan untuk mencatat pembelian, bukan akun persediaan.
    • HPP dihitung di akhir periode dengan formula tertentu.
    • Kelebihan: Lebih sederhana dalam pencatatan sehari-hari.
    • Kekurangan: Tidak memberikan informasi persediaan dan HPP secara real-time.
    • Digunakan oleh perusahaan yang menjual barang murah atau volume transaksi sangat tinggi, seperti supermarket.

Metode Penilaian Persediaan

Setelah mengetahui sistem pencatatan, kita juga perlu tahu bagaimana menilai harga perolehan barang yang dijual.

  • FIFO (First In, First Out):

    • Asumsi: Barang yang pertama kali masuk (dibeli) adalah yang pertama kali keluar (dijual).
    • Pengaruh: Jika harga barang cenderung naik, FIFO akan menghasilkan HPP yang lebih rendah dan laba bersih yang lebih tinggi, serta nilai persediaan akhir yang lebih tinggi.
  • LIFO (Last In, First Out):

    • Asumsi: Barang yang terakhir masuk (dibeli) adalah yang pertama kali keluar (dijual).
    • Pengaruh: Jika harga barang cenderung naik, LIFO akan menghasilkan HPP yang lebih tinggi dan laba bersih yang lebih rendah, serta nilai persediaan akhir yang lebih rendah. (Perlu dicatat, di PSAK Indonesia, metode LIFO sudah tidak diizinkan).
  • Average (Rata-rata):

    • Asumsi: Harga barang yang dijual dihitung berdasarkan rata-rata tertimbang dari semua unit yang tersedia untuk dijual.
    • Pengaruh: Menghasilkan nilai HPP dan persediaan akhir yang berada di antara FIFO dan LIFO, lebih stabil terhadap fluktuasi harga. Tidak ada yang "terbaik" secara mutlak dari metode-metode ini (selain LIFO yang memang tidak diizinkan di Indonesia). Yang terpenting adalah memilih yang paling relevan dengan karakteristik bisnis dan kebijakan akuntansi perusahaan Anda. Konsistensi dalam penerapannya juga krusial.

Harga Pokok Penjualan (HPP): Angka Krusial yang Sering Terlupakan

HPP adalah biaya langsung yang terkait dengan penjualan barang oleh perusahaan. Ini adalah biaya perolehan barang dagang yang berhasil dijual selama periode tertentu. Bagi saya, HPP adalah indikator efisiensi operasional. Jika HPP terlalu tinggi dibandingkan penjualan, itu bisa menjadi sinyal adanya masalah dalam pengadaan atau manajemen persediaan.

  • Rumus HPP (Metode Periodik): HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih – Persediaan Akhir Di mana:
    • Pembelian Bersih = Pembelian + Beban Angkut Pembelian – Retur Pembelian – Potongan Pembelian

Dalam metode perpetual, HPP sudah langsung diketahui dan tercatat setiap kali ada penjualan, sehingga tidak perlu perhitungan manual di akhir periode seperti pada metode periodik.


Jenis-Jenis Jurnal dalam Perusahaan Dagang: Lebih dari Sekadar Umum

Untuk efisiensi dan spesialisasi, perusahaan dagang, terutama yang memiliki volume transaksi tinggi, seringkali menggunakan jurnal khusus selain jurnal umum.

  • Jurnal Khusus: Dirancang untuk mencatat jenis transaksi yang sama dan sering terjadi secara efisien. Ini sangat mempercepat proses pencatatan.

    • Jurnal Pembelian: Untuk mencatat semua transaksi pembelian barang dagang secara kredit.
    • Jurnal Penjualan: Untuk mencatat semua transaksi penjualan barang dagang secara kredit.
    • Jurnal Penerimaan Kas: Untuk mencatat semua transaksi penerimaan kas, baik dari penjualan tunai, pelunasan piutang, atau sumber lain.
    • Jurnal Pengeluaran Kas: Untuk mencatat semua transaksi pengeluaran kas, seperti pembelian tunai, pembayaran utang, atau pembayaran beban. Bagi saya, jurnal khusus adalah penyelamat hidup di perusahaan dengan transaksi masif. Mereka membuat proses posting ke buku besar menjadi jauh lebih sederhana dan cepat.
  • Jurnal Umum: Digunakan untuk mencatat transaksi yang tidak bisa dicatat di jurnal khusus, seperti:

    • Retur pembelian dan penjualan (jika tidak ada kolom khusus di jurnal kas).
    • Penyesuaian (jurnal penyesuaian).
    • Penutupan (jurnal penutup).
    • Transaksi-transaksi lain yang sifatnya tidak rutin.

Melangkah ke Buku Besar dan Neraca Saldo

Setelah transaksi dicatat di jurnal, langkah selanjutnya adalah posting ke buku besar. Buku besar adalah kumpulan semua akun yang digunakan oleh perusahaan (misalnya akun kas, piutang, persediaan, penjualan, HPP, dll.). Setiap transaksi dari jurnal akan memengaruhi setidaknya dua akun di buku besar, menjaga prinsip keseimbangan debit dan kredit.

Setelah semua transaksi diposting, kita akan menyusun Neraca Saldo. Ini adalah daftar semua akun buku besar beserta saldo debit atau kreditnya pada akhir periode. Tujuan neraca saldo adalah untuk memverifikasi kesetaraan total debit dan total kredit sebelum melanjutkan ke penyusunan laporan keuangan. Jika total debit tidak sama dengan total kredit, berarti ada kesalahan yang perlu dicari dan dikoreksi.


Jurnal Penyesuaian: Merapikan Laporan Keuangan

Jurnal penyesuaian dibuat di akhir periode akuntansi untuk memastikan prinsip akrual dan penandingan pendapatan dengan beban telah dipatuhi. Untuk perusahaan dagang, ini sangat penting. Beberapa contoh jurnal penyesuaian yang umum:

  • Penyesuaian Persediaan Akhir: Terutama pada metode periodik, untuk memindahkan saldo persediaan awal dan pembelian ke HPP, serta mencatat persediaan akhir.
  • Beban Dibayar di Muka: Misalnya, sewa dibayar di muka yang sudah terpakai.
  • Pendapatan Diterima di Muka: Pendapatan yang sudah diterima tapi jasanya/barangnya belum diserahkan.
  • Beban Akrual: Beban yang sudah terjadi tapi belum dibayar, seperti gaji yang terutang.
  • Pendapatan Akrual: Pendapatan yang sudah dihasilkan tapi belum diterima kasnya.
  • Penyusutan Aset Tetap: Alokasi biaya aset tetap selama masa manfaatnya.

Laporan Keuangan: Cermin Kesehatan Bisnis Anda

Setelah semua jurnal penyesuaian dibuat dan diposting, kita siap menyusun laporan keuangan. Ini adalah produk akhir dari seluruh proses akuntansi, memberikan gambaran tentang kinerja dan posisi keuangan perusahaan.

  • Laporan Laba Rugi: Menunjukkan pendapatan dan beban selama periode tertentu untuk menghasilkan laba atau rugi bersih. Di perusahaan dagang, HPP adalah komponen yang sangat menonjol di laporan ini, berada tepat di bawah penjualan untuk mendapatkan laba kotor.
  • Laporan Perubahan Modal: Menunjukkan perubahan ekuitas pemilik selama periode tertentu.
  • Laporan Posisi Keuangan (Neraca): Menunjukkan aset, kewajiban, dan ekuitas perusahaan pada tanggal tertentu. Akun persediaan barang dagang akan terlihat jelas di bagian aset lancar.
  • Laporan Arus Kas: Merinci aliran masuk dan keluar kas dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.

Laporan keuangan bukan sekadar angka di atas kertas. Mereka adalah narasi finansial, alat vital bagi manajemen untuk membuat keputusan strategis, dan bagi pihak luar untuk menilai kesehatan perusahaan.


Tips Ampuh Menguasai Akuntansi Perusahaan Dagang

Sebagai seseorang yang telah berkecimpung lama, saya punya beberapa saran untuk Anda yang ingin benar-benar menguasai topik ini:

  • Pahami Konsep, Bukan Sekadar Hafalan: Jangan hanya menghafal jurnal. Pahami alasan di balik debit dan kredit. Mengapa kas berkurang saat membayar beban? Mengapa persediaan bertambah saat membeli?
  • Latihan, Latihan, Latihan: Akuntansi adalah keterampilan. Semakin banyak Anda berlatih mengerjakan soal dan kasus, semakin terasah intuisi Anda.
  • Manfaatkan Teknologi: Di era digital ini, banyak software akuntansi yang bisa membantu Anda memahami siklus secara otomatis. Menggunakan software juga akan memberikan gambaran nyata bagaimana akuntansi dilakukan di dunia kerja.
  • Jangan Malu Bertanya: Jika ada yang tidak Anda pahami, jangan disimpan sendiri. Tanyakan kepada mentor, dosen, atau rekan kerja yang lebih berpengalaman.
  • Konsisten Belajar: Akuntansi terus berkembang. Tetap update dengan standar akuntansi terbaru dan tren bisnis.

Refleksi Akhir: Akuntansi Adalah Bahasa Bisnis

Menguasai akuntansi perusahaan dagang adalah investasi berharga bagi siapapun yang ingin berkarier di dunia bisnis. Ini bukan hanya tentang mencatat angka, tetapi tentang memahami cerita di balik setiap transaksi, mengukur kinerja, dan merencanakan masa depan.

Bagi saya, akuntansi perusahaan dagang adalah narasi tentang bagaimana barang bergerak dari pemasok ke tangan konsumen, bagaimana nilai diciptakan, dan bagaimana sebuah bisnis bertahan dan berkembang. Setiap jurnal adalah kalimat, setiap laporan keuangan adalah sebuah bab, dan keseluruhan adalah buku epik tentang perjalanan ekonomi sebuah entitas. Jangan biarkan kerumitan awal menghentikan Anda. Hadapi, pahami, dan kuasailah, karena di sanalah letak kekuatan untuk membuat keputusan bisnis yang cerdas dan strategis.


Pertanyaan & Jawaban Seputar Akuntansi Perusahaan Dagang

Q1: Apakah setiap perusahaan dagang wajib menggunakan jurnal khusus? A1: Tidak wajib, terutama jika volume transaksinya tidak terlalu tinggi. Perusahaan kecil bisa saja hanya menggunakan jurnal umum untuk semua transaksi. Namun, untuk efisiensi dan akurasi pada perusahaan dengan transaksi masif, penggunaan jurnal khusus sangat disarankan dan umumnya menjadi praktik standar.

Q2: Apa bedanya akun 'Pembelian' dan 'Persediaan Barang Dagang' dalam pencatatan transaksi pembelian? A2: Akun 'Pembelian' digunakan jika perusahaan menggunakan sistem pencatatan periodik, yang mana pembelian dicatat dalam akun terpisah dan persediaan dihitung fisik di akhir periode. Akun 'Persediaan Barang Dagang' digunakan jika perusahaan menggunakan sistem pencatatan perpetual, di mana setiap pembelian dan penjualan langsung memengaruhi saldo akun persediaan secara real-time.

Q3: Bagaimana jika ada retur penjualan, tapi pelanggan sudah membayar lunas dan bahkan sudah diberi potongan? A3: Jika pelanggan mengembalikan barang setelah pembayaran lunas dan menerima potongan, perusahaan harus mengembalikan uang tunai kepada pelanggan. Jurnalnya akan mendebit Retur Penjualan (untuk mengurangi pendapatan penjualan) dan mengkredit Kas (sejumlah uang yang dikembalikan). Jika menggunakan perpetual, jangan lupa mendebit Persediaan Barang Dagang dan mengkredit HPP sejumlah harga perolehan barang yang dikembalikan. Potongan yang sudah dinikmati pelanggan umumnya tidak dibatalkan kecuali ada kebijakan khusus.

Q4: Mengapa HPP begitu krusial di laporan laba rugi perusahaan dagang, sementara di jasa tidak ada? A4: HPP sangat krusial karena merupakan biaya langsung untuk memperoleh barang yang dijual. Ini adalah angka pertama yang dikurangkan dari penjualan untuk mendapatkan laba kotor, yang merupakan indikator profitabilitas inti dari aktivitas perdagangan. Di perusahaan jasa, tidak ada barang fisik yang dijual, sehingga tidak ada biaya perolehan barang. Laba kotor mereka langsung diperoleh dari total pendapatan jasa dikurangi beban operasional terkait jasa tersebut.

Pernyataan Cetak Ulang: Artikel dan hak cipta yang dipublikasikan di situs ini adalah milik penulis aslinya. Harap sebutkan sumber artikel saat mencetak ulang dari situs ini!

Tautan artikel ini:https://www.cxynani.com/keuangan-pribadi/6456.html

Artikel populer
Artikel acak
Posisi iklan sidebar