Selamat datang, para pembaca setia dan calon investor cerdas! Sebagai seorang pengamat dan praktisi di dunia ekonomi serta investasi, saya seringkali menemukan bahwa konsep "investasi" seringkali disalahpahami. Banyak yang mengira investasi hanyalah membeli saham atau properti. Memang tidak salah, namun itu hanya sebagian kecil dari gambaran besarnya. Untuk memahami esensi investasi yang sebenarnya, terutama dalam konteks ekonomi makro yang lebih luas, kita perlu menyelami pemikiran salah satu ekonom paling berpengaruh sepanjang masa: John Maynard Keynes.
Pemikiran Keynes, yang tertuang dalam magnum opusnya, The General Theory of Employment, Interest, and Money, merevolusi cara kita memandang ekonomi, khususnya peran investasi dalam menggerakkan roda perekonomian. Jika Anda bertanya, "Apa itu investasi menurut Keynes?", maka Anda berada di tempat yang tepat. Artikel ini akan mengupas tuntas definisi, faktor pendorong, dan implikasi kebijakan dari konsep investasi ala Keynes, disajikan dengan bahasa yang mudah dicerna agar kita semua bisa menjadi lebih cerdas dalam menyikapi dinamika ekonomi.
Sebelum kita melangkah lebih jauh ke dalam pemikiran Keynes, ada baiknya kita sedikit menilik pandangan ekonomi klasik mengenai investasi. Ekonom klasik pada umumnya meyakini bahwa investasi adalah fungsi langsung dari tabungan. Semakin banyak tabungan yang tersedia, semakin rendah suku bunga, yang pada gilirannya akan mendorong investasi. Bagi mereka, suku bunga adalah penyeimbang alami antara tabungan dan investasi, memastikan bahwa semua tabungan akan selalu diubah menjadi investasi produktif. Singkatnya, pasar akan selalu bergerak menuju ekuilibrium penuh.
Namun, Keynes melihat ada celah besar dalam pandangan optimis ini. Bagi Keynes, tidak ada jaminan bahwa semua tabungan akan otomatis berubah menjadi investasi. Ia berpendapat bahwa investasi bukanlah semata-mata fungsi dari suku bunga atau ketersediaan tabungan. Sebaliknya, investasi adalah proses yang sangat tidak stabil dan rentan terhadap ketidakpastian, dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis dan ekspektasi masa depan yang seringkali irasional. Di sinilah letak revolusi Keynesian. Keynes mengubah fokus dari sisi penawaran (tabungan) ke sisi permintaan (investasi) sebagai penentu utama tingkat output dan pekerjaan dalam suatu perekonomian.
Bagi Keynes, investasi memiliki makna yang sangat spesifik dan krusial. Investasi bukanlah sekadar membeli aset finansial yang sudah ada, seperti saham di pasar sekunder, obligasi, atau tanah yang sudah dimiliki orang lain. Keynes membedakan investasi yang sebenarnya dari apa yang ia sebut spekulasi.
Investasi dalam konteks Keynesian adalah pengeluaran yang meningkatkan stok modal riil (physical capital) dalam suatu perekonomian. Ini berarti menciptakan kapasitas produktif baru. Contoh konkretnya meliputi:
Mengapa ini penting? Karena hanya jenis investasi inilah yang menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan agregat, dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Pembelian saham yang sudah ada, misalnya, hanya mentransfer kepemilikan aset dari satu tangan ke tangan lain tanpa menambah kapasitas produktif total negara. Ini adalah perbedaan fundamental yang seringkali diabaikan dalam percakapan sehari-hari.
Menurut Keynes, keputusan seorang investor atau perusahaan untuk melakukan investasi didorong oleh dua faktor utama yang saling berinteraksi: Efisiensi Marjinal Modal (EMM) dan Tingkat Suku Bunga.
EMM adalah tingkat diskonto yang menyamakan harga penawaran (biaya) suatu aset modal dengan nilai sekarang dari serangkaian pendapatan yang diharapkan dari aset tersebut sepanjang masa pakainya. Kedengarannya rumit? Mari kita sederhanakan.
Bayangkan Anda seorang pengusaha yang ingin membangun pabrik baru. Anda memperkirakan pabrik ini akan menghasilkan keuntungan bersih sekian rupiah setiap tahun selama 10 tahun ke depan. EMM adalah tingkat pengembalian internal yang Anda harapkan dari investasi pabrik tersebut. Ini adalah ekspektasi Anda tentang profitabilitas masa depan dari investasi riil.
EMM cenderung tidak stabil dan mudah berubah karena sangat bergantung pada ekspektasi masa depan, yang penuh ketidakpastian.
Tingkat suku bunga dalam teori Keynesian adalah biaya meminjam uang untuk melakukan investasi, atau biaya peluang (opportunity cost) menahan uang (likuiditas). Ini adalah harga yang harus dibayar oleh investor untuk mendapatkan akses terhadap modal yang diperlukan.
Menurut Keynes, keputusan untuk berinvestasi dibuat ketika Efisiensi Marjinal Modal (EMM) yang diharapkan dari suatu proyek investasi melebihi Tingkat Suku Bunga yang berlaku.
Investasi akan terjadi jika EMM > Suku Bunga.
Sebaliknya, jika EMM lebih rendah atau sama dengan suku bunga, investasi tidak akan dilakukan. Ini adalah jantung dari teori investasi Keynesian. Implikasinya adalah bahwa pemerintah atau bank sentral bisa memengaruhi investasi melalui manipulasi suku bunga, tetapi keberhasilan ini sangat bergantung pada bagaimana ekspektasi investor (EMM) bereaksi.
Investasi menurut Keynes bukanlah proses yang sederhana, melainkan sebuah teka-teki rumit yang dipengaruhi oleh berbagai variabel. Selain EMM dan suku bunga, ada beberapa faktor lain yang tak kalah penting:
Ini adalah inti dari teori investasi Keynesian. Keputusan investasi bersifat forward-looking. Seorang pengusaha tidak hanya melihat kondisi saat ini, tetapi juga memprediksi prospek permintaan, biaya, dan persaingan di masa depan. Jika masa depan terasa sangat tidak pasti, atau bahkan suram, ekspektasi laba (EMM) akan menurun drastis, menyebabkan penundaan atau pembatalan investasi. Ketidakpastian ini dapat berasal dari:
Konsep "animal spirits" adalah salah satu kontribusi paling khas Keynes dalam ekonomi. Ini mengacu pada dorongan spontan, irasional, dan insting bisnis yang mendorong pengusaha untuk berinvestasi, bahkan di tengah ketidakpastian. Ini adalah optimisme atau pesimisme yang menyebar di kalangan pelaku pasar, seringkali tanpa dasar rasional yang kuat.
Ini menunjukkan bahwa keputusan investasi tidak melulu didasarkan pada perhitungan rasional yang dingin, melainkan juga emosi dan psikologi kolektif. Sebagai seorang yang berinteraksi langsung dengan para pelaku pasar, saya sering menyaksikan bagaimana sentimen pasar bisa berubah dalam sekejap, dan perubahan ini langsung tercermin pada keputusan investasi mereka. Ini adalah bukti nyata bahwa 'animal spirits' masih sangat relevan hingga hari ini.
Keynes berpendapat bahwa individu atau perusahaan memiliki preferensi untuk memegang uang tunai (likuiditas) daripada menginvestasikannya dalam aset yang kurang likuid. Ini terjadi karena:
Ketika preferensi likuiditas tinggi, orang cenderung menahan uang, mengurangi dana yang tersedia untuk investasi, dan meningkatkan tekanan pada suku bunga.
Berbeda dengan ekonom klasik yang percaya pada pasar bebas, Keynes sangat menekankan pentingnya intervensi pemerintah untuk menstabilkan dan mendorong investasi.
Pemahaman Keynes tentang investasi memiliki implikasi kebijakan yang mendalam, terutama dalam menghadapi masa resesi atau depresi ekonomi.
Dalam kacamata saya, pemikiran Keynes ini sangat relevan dalam krisis modern. Ketika dunia dilanda pandemi COVID-19, banyak negara yang menerapkan stimulus fiskal besar-besaran dan kebijakan moneter akomodatif, persis seperti yang disarankan Keynes untuk menopang permintaan dan investasi di tengah ketidakpastian ekstrem. Ini membuktikan betapa mendalam dan berjangka panjangnya pengaruh pemikiran Keynes.
Tentu saja, teori Keynes tidak luput dari kritik. Aliran pemikiran lain, seperti monetaris dan ekonom rasional, berpendapat bahwa ekspektasi lebih rasional dan intervensi pemerintah dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan, seperti inflasi atau inefisiensi. Mereka juga berpendapat bahwa EMM mungkin tidak sevolatil yang dibayangkan Keynes, dan pasar mampu mengoreksi diri.
Namun, terlepas dari berbagai kritikan, relevansi inti pemikiran Keynes tentang investasi tetap kuat. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, di mana sentimen pasar dapat berubah dalam sekejap dan gejolak ekonomi seringkali melampaui prediksi model-model rasional, konsep seperti animal spirits dan pentingnya ekspektasi menjadi semakin nyata.
Sebagai seorang pengamat, saya melihat bahwa dinamika pasar saham, gelombang investasi startup, hingga keputusan ekspansi bisnis besar-besaran, semuanya sangat dipengaruhi oleh gelombang optimisme dan pesimisme yang melampaui perhitungan matematis belaka. Inilah warisan abadi Keynes: pengakuan bahwa ekonomi, pada akhirnya, adalah tentang manusia dan pilihan-pilihan mereka yang kompleks, yang tidak selalu didorong oleh rasionalitas murni, melainkan juga oleh insting, harapan, dan ketakutan. Memahami investasi dari sudut pandang Keynes bukan hanya tentang teori ekonomi, tetapi juga tentang memahami psikologi kolektif yang menggerakkan dunia bisnis dan finansial. Ini adalah landasan penting bagi siapa pun yang ingin benar-benar memahami bagaimana ekonomi bekerja, melampaui sekadar angka di laporan keuangan.
Tanya Jawab Inti untuk Pemahaman Lebih Baik:
Apa perbedaan utama investasi Keynesian dari definisi umum "membeli aset"?
Bagaimana Efisiensi Marjinal Modal (EMM) dan Suku Bunga memengaruhi keputusan investasi?
Apa peran "semangat kehewanan" (animal spirits) dalam investasi Keynesian?
Mengapa Keynes berpendapat pemerintah harus campur tangan dalam ekonomi untuk mendorong investasi?
Tautan artikel ini:https://www.cxynani.com/keuangan-pribadi/6010.html